Jawa Timur sudah lama dikenal sebagai salah satu lumbung padi nasional. Hamparan sawah di Jember, Banyuwangi, Lamongan, Ngawi, Bojonegoro, Nganjuk, Lumajang, dan Pasuruan menyumbang porsi besar beras yang dimakan di Pulau Jawa dan sekitarnya. Di balik peran penting itu ada satu fakta yang jarang dibicarakan di warung kopi petani: sawah juga ikut menyumbang gas rumah kaca.
Mengapa sawah menghasilkan gas rumah kaca?
Berbeda dari ladang jagung atau kedelai, sawah padi biasanya digenangi air selama sebagian besar musim tanam. Genangan membuat tanah kekurangan oksigen. Dalam kondisi itu, mikroorganisme tanah menguraikan bahan organik (sisa akar, jerami, pupuk kandang) dan menghasilkan metana (CH4). Metana jauh lebih kuat memerangkap panas dibanding karbon dioksida; dalam perhitungan yang dipakai kalkulator ADIPA, 1 kg metana setara dengan 28 kg CO2 (GWP 28).
Ada dua gas lain yang ikut terhitung:
- Dinitrogen oksida (N2O) berasal dari pupuk nitrogen seperti urea yang tidak seluruhnya diserap tanaman. Satu kilogram N2O setara dengan sekitar 265 kg CO2.
- Karbon dioksida (CO2) berasal dari bahan bakar solar untuk traktor, pompa air, dan mesin panen, serta dari pembakaran jerami.
Gambaran sentra padi di Jawa Timur
Kondisi lahan padi di Jawa Timur cukup beragam, dan itu memengaruhi besar kecilnya emisi:
- Sawah irigasi teknis (misalnya di wilayah aliran Brantas dan Bengawan Solo) umumnya bisa ditanami dua hingga tiga kali setahun, sehingga emisi per tahun lebih besar karena lebih banyak musim tergenang.
- Sawah tadah hujan di sebagian Bojonegoro, Tuban, dan pulau Madura bergantung pada curah hujan, sehingga masa genangannya lebih pendek.
- Sawah pesisir utara seperti Lamongan, Gresik, dan Sidoarjo rentan banjir rob dan salinitas, sehingga pilihan varietas dan pengaturan air perlu lebih hati-hati.
- Sawah dataran tinggi dan lereng gunung di sekitar Malang, Pasuruan, dan Lumajang memiliki suhu lebih rendah, yang memengaruhi laju penguraian bahan organik.
Tiga sumber emisi terbesar di tingkat petani
- Pengairan tergenang terus-menerus. Ini penyumbang metana paling besar dan paling mudah diubah lewat pengairan berselang.
- Jerami yang dibenamkan segar saat lahan tergenang atau dibakar. Membenamkan jerami segar memicu lonjakan metana; membakarnya melepas CO2, partikel, dan menghilangkan bahan organik yang bermanfaat.
- Pupuk nitrogen berlebihan. Selain boros biaya, kelebihan urea berubah menjadi N2O dan tercuci ke saluran air.
Dekarbonisasi tidak berarti mengurangi hasil panen
Kekhawatiran yang paling sering muncul dari petani adalah: "kalau air dikurangi atau pupuk dihemat, hasil panen turun?" Pengalaman penelitian dan uji lapang di berbagai negara penghasil padi menunjukkan bahwa irigasi berselang yang diatur dengan benar umumnya tidak menurunkan hasil secara berarti, sementara efisiensi pupuk justru menurunkan biaya produksi. Tentu saja hasil tiap lahan berbeda; karena itu langkah awal yang disarankan adalah mencoba di sebagian petak dan membandingkannya dengan cara biasa.
Apa yang bisa dilakukan mulai musim tanam ini?
- Pelajari irigasi berselang (AWD) dan coba di satu petak.
- Hentikan kebiasaan membakar jerami; lihat alternatifnya di artikel pengelolaan jerami.
- Sesuaikan dosis pupuk dengan anjuran setempat, seperti dibahas di pemupukan berimbang.
- Catat kegiatan di kalender tanam agar data musim ke musim bisa dibandingkan.
Dekarbonisasi pertanian padi pada dasarnya adalah bertani lebih efisien: air, pupuk, dan bahan bakar dipakai secukupnya. Hasilnya adalah biaya lebih rendah bagi petani dan udara yang lebih bersih bagi semua orang.
Artikel ini bersifat informasi umum dan bukan pengganti rekomendasi penyuluh pertanian atau instansi berwenang. Sesuaikan dengan kondisi lahan Anda dan baca juga disclaimer kami. Menemukan kekeliruan? Beri tahu kami.