Teknik Budidaya

Pemupukan Berimbang pada Padi Sawah: Cukup, Tepat Waktu, dan Tidak Boros

Oleh Tim Redaksi ADIPA · 16 Oktober 2026 · 7 menit baca

Pupuk adalah salah satu pos biaya terbesar dalam usaha tani padi. Di banyak sawah, pemupukan dilakukan berdasarkan kebiasaan: "tetangga pakai sekian, saya ikut". Padahal kebutuhan hara tiap lahan berbeda, dan kelebihan pupuk, terutama urea, tidak otomatis menambah hasil. Kelebihan itu justru terbuang ke udara sebagai dinitrogen oksida (N2O), tercuci ke saluran, atau membuat tanaman lebih mudah terserang hama dan rebah.

Prinsip pemupukan berimbang

Pemupukan berimbang berarti memberi hara dalam jumlah yang sesuai kebutuhan tanaman dan kondisi tanah, pada waktu yang tepat, dengan cara yang tepat. Tiga unsur utama adalah nitrogen (N), fosfor (P), dan kalium (K), ditambah bahan organik untuk memperbaiki tanah.

Langkah 1: kenali lahan Anda

  • Uji tanah. Perangkat uji tanah sawah (PUTS) dan layanan laboratorium tersedia lewat Dinas Pertanian atau BPP. Hasilnya menunjukkan status P dan K sehingga Anda tidak memberi pupuk yang sebenarnya sudah cukup.
  • Bagan Warna Daun (BWD). Alat sederhana berupa kartu warna hijau untuk menilai kecukupan nitrogen daun. Pemberian urea dilakukan ketika warna daun menunjukkan kekurangan, bukan menurut kalender saja.
  • Catat hasil musim sebelumnya. Jika hasil panen tinggi dengan dosis lebih rendah, itu sinyal dosis lama sudah berlebih.

Langkah 2: bagi pemberian menjadi beberapa tahap

Alih-alih sekali tabur dalam jumlah besar, bagi pupuk nitrogen dalam 2–3 kali pemberian sesuai fase tanaman:

  1. Pupuk dasar (0–7 hari setelah tanam): sebagian N bersama seluruh P dan sebagian K.
  2. Susulan pertama (sekitar 3 minggu setelah tanam, fase anakan aktif): N.
  3. Susulan kedua (sekitar 5–6 minggu setelah tanam, menjelang primordia bunga): N dan sisa K bila perlu.

Angka pastinya berbeda untuk tiap varietas dan wilayah. Gunakan rekomendasi pemupukan spesifik lokasi dari penyuluh atau Dinas Pertanian setempat sebagai acuan.

Langkah 3: cara pemberian yang mengurangi kehilangan

  • Tabur urea saat macak-macak (air tipis atau tanah jenuh) bukan saat air dalam atau saat akan turun hujan deras, karena pupuk mudah hanyut.
  • Jangan memupuk saat sawah kering retak; hara tidak terserap dan menguap.
  • Pertimbangkan pupuk dengan pelepasan lambat atau pupuk majemuk (NPK) yang sesuai rekomendasi, bila memang tersedia dan terjangkau.
  • Pada pengairan berselang, atur waktu pengeringan dengan waktu pemupukan agar nitrogen tidak banyak hilang. Konsultasikan jadwalnya dengan penyuluh.

Peran pupuk organik

Kompos dan pupuk kandang yang sudah matang memperbaiki struktur tanah dan menambah hara bertahap, sehingga kebutuhan pupuk kimia bisa dikurangi dalam jangka menengah. Namun bahan organik yang belum matang dan dibenamkan ke sawah tergenang dapat meningkatkan metana. Pastikan kompos sudah matang (tidak berbau menyengat, warna gelap, remah).

Soal pupuk bersubsidi

Penebusan pupuk bersubsidi mengikuti ketentuan pemerintah (misalnya terdaftar dalam e-RDKK dan alokasi per hektar). Harga eceran tertinggi (HET) dan alokasi dapat berubah, jadi periksa ketentuan terbaru di kios resmi atau Dinas Pertanian. Menyesuaikan dosis dengan kebutuhan lahan berarti alokasi yang ada bisa dimanfaatkan lebih tepat, tanpa membeli tambahan di harga non-subsidi.

Lihat dampaknya. Di kalkulator emisi, coba ubah dosis urea dari 250 kg/ha menjadi 175 kg/ha dan lihat perubahan N2O serta total CO2e. Dosis yang lebih rendah menghemat biaya pupuk sekaligus menurunkan emisi, selama anjuran setempat tetap dipenuhi.

Pesan utamanya sederhana: pupuk yang diberikan seharusnya diserap tanaman, bukan hilang ke udara atau air. Mulailah dengan mengukur, mencatat, dan menguji pengurangan dosis secara bertahap di sebagian petak.


Artikel ini bersifat informasi umum dan bukan pengganti rekomendasi penyuluh pertanian atau instansi berwenang. Sesuaikan dengan kondisi lahan Anda dan baca juga disclaimer kami. Menemukan kekeliruan? Beri tahu kami.

Baca juga