Teknik Budidaya

Irigasi Berselang (AWD) untuk Sawah Jawa Timur: Hemat Air, Kurangi Metana

Oleh Tim Redaksi ADIPA · 24 Oktober 2026 · 7 menit baca

Irigasi berselang atau Alternate Wetting and Drying (AWD) adalah cara mengatur air sawah dengan membiarkan lahan mengering sesaat di antara dua kali penggenangan, bukan menggenangi terus-menerus sampai menjelang panen. Cara ini dikembangkan dan diuji luas oleh lembaga penelitian padi internasional serta lembaga penelitian pertanian di Indonesia, dan dikenal dapat menghemat air sambil menurunkan emisi metana.

Mengapa AWD menurunkan metana?

Metana terbentuk ketika tanah kekurangan oksigen akibat genangan. Saat sawah dikeringkan sebentar, oksigen masuk ke dalam tanah dan penguraian bahan organik berlangsung tanpa menghasilkan banyak metana. Kalkulator ADIPA memakai faktor penurunan sekitar 48% untuk metana pada AWD dibanding genangan terus-menerus (angka ini indikatif dan bergantung pada tanah, jerami, dan cuaca setempat).

Alat sederhana: pipa pantau

Petani tidak perlu alat mahal. Cukup siapkan pipa paralon atau botol plastik bekas:

  1. Potong pipa sepanjang kira-kira 30 cm dengan diameter 10 cm.
  2. Lubangi sisi pipa di bagian bawah (sekitar 15 cm) agar air tanah bisa keluar-masuk.
  3. Tanam pipa di petak hingga bagian berlubang terbenam penuh, sisakan sekitar 5 cm di atas permukaan tanah.
  4. Keluarkan tanah di dalam pipa supaya dasar pipa terlihat jelas.

Dengan pipa ini Anda dapat melihat tinggi muka air di bawah permukaan tanah tanpa harus menebak-nebak.

Aturan dasar AWD

  • Setelah tanam pindah, biarkan sawah tergenang dangkal sekitar 2–5 cm selama kira-kira 1–2 minggu agar bibit pulih dan gulma tertekan.
  • Setelah itu, biarkan air susut. Jika muka air di pipa sudah sekitar 15 cm di bawah permukaan tanah, alirkan air kembali sampai tergenang sekitar 5 cm.
  • Ulangi siklus kering-basah tersebut. Bila lahan berpasir atau bocor, batas 15 cm bisa terlalu dalam; pakai batas yang lebih dangkal (misalnya 10 cm) dan konsultasikan ke penyuluh.
  • Jaga genangan lagi pada fase berbunga (sekitar seminggu sebelum hingga seminggu sesudah bunga muncul), karena kekurangan air saat itu dapat menurunkan hasil.
  • Sekitar 7–10 hari sebelum panen, air dikeringkan seperti biasa untuk memudahkan panen.

Menyesuaikan dengan kondisi Jawa Timur

  • Irigasi teknis dengan giliran air. AWD paling mudah diterapkan jika Anda punya kendali atas pintu air petak. Di daerah yang air dibagi bergilir, kompakkan dengan P3A atau kelompok tani agar jadwal pengeringan tidak merugikan petak tetangga.
  • Tanah liat berat (umum di sebagian Ngawi dan Bojonegoro) menahan air lama, sehingga waktu pengeringan lebih panjang. Pantau lewat pipa, jangan hanya mengira-ngira hari.
  • Lahan pesisir bersalinitas. Jangan biarkan terlalu kering karena garam dapat naik ke zona akar. Tanyakan dahulu ke penyuluh setempat.
  • Musim hujan lebat. Bila hujan terus turun, lahan tidak akan kering sesuai rencana; jangan paksakan. Yang penting adalah mengurangi genangan yang tidak perlu dan menjaga saluran pembuangan.

Manfaat lain bagi petani

  • Menghemat air dan, jika pengairan memakai pompa, menghemat bahan bakar atau listrik.
  • Akar tumbuh lebih dalam sehingga tanaman lebih tahan rebah.
  • Tanah lebih padat sehingga memudahkan mesin panen masuk saat musim hujan.
Coba di satu petak dulu. Terapkan AWD di sebagian lahan, pertahankan cara lama di petak lain, lalu bandingkan hasil dan penggunaan air. Setelah itu masukkan skenario "Irigasi Berselang (AWD)" di kalkulator emisi untuk melihat perkiraan penurunan emisinya.

Catatan: panduan ini bersifat umum. Selalu sesuaikan dengan anjuran Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) dan Dinas Pertanian di kabupaten Anda, karena jenis tanah, ketersediaan air, dan varietas berbeda di tiap wilayah.


Artikel ini bersifat informasi umum dan bukan pengganti rekomendasi penyuluh pertanian atau instansi berwenang. Sesuaikan dengan kondisi lahan Anda dan baca juga disclaimer kami. Menemukan kekeliruan? Beri tahu kami.

Baca juga