Setiap hektar sawah menyisakan beberapa ton jerami setelah panen. Banyak petani masih membakarnya karena cepat, murah, dan membuat lahan siap diolah. Namun pembakaran jerami melepas asap dan karbon, mengurangi bahan organik tanah, dan di beberapa tempat mengganggu lalu lintas serta kesehatan warga. Kabar baiknya, ada beberapa cara memanfaatkan jerami yang cocok dengan kondisi Jawa Timur.
Mengapa jerami penting bagi tanah?
Jerami mengandung unsur hara, terutama kalium (K) dan silika (Si), serta bahan organik yang memperbaiki struktur tanah. Ketika dibakar, sebagian besar hara nitrogen dan sulfur hilang ke udara, dan tanah kehilangan "makanan" bagi mikroorganisme.
Namun, jerami segar yang langsung dibenamkan ke sawah yang tergenang juga bukan solusi terbaik: penguraiannya tanpa oksigen memicu lonjakan gas metana. Inilah sebabnya jerami perlu diolah atau diberi waktu terurai sebelum lahan digenangi.
Empat pilihan memanfaatkan jerami
1. Dikomposkan di pematang atau pinggir lahan
Tumpuk jerami berlapis, siram, dan taburkan dekomposer seperti Trichoderma atau produk dekomposer yang dijual di toko pertanian. Tutup dengan terpal atau plastik, lalu balik secara berkala. Dalam beberapa minggu hingga sekitar dua bulan, jerami menjadi kompos yang bisa dikembalikan ke lahan sebagai pupuk organik.
2. Dijadikan pakan ternak
Jawa Timur adalah salah satu daerah dengan populasi sapi potong dan sapi perah terbesar di Indonesia, misalnya di Lamongan, Tuban, Blitar, Malang, dan Pasuruan. Jerami dapat menjadi pakan kasar. Kualitasnya dapat ditingkatkan dengan fermentasi (jerami fermentasi) atau amoniasi. Kotoran sapi kemudian kembali ke sawah sebagai pupuk kandang atau kompos, membentuk lingkaran manfaat yang dikenal sebagai sistem integrasi padi–ternak.
3. Dibenamkan lebih awal dan dibiarkan terurai
Jika terpaksa dibenamkan, lakukan segera setelah panen saat lahan masih kering atau lembap, lalu beri jeda beberapa minggu sebelum penggenangan. Taburkan dekomposer agar penguraian lebih cepat. Cara ini menurunkan risiko lonjakan metana dibanding membenamkan jerami segar saat tergenang.
4. Diolah menjadi biochar atau media tanam
Jerami dapat dipirolisis menjadi arang hayati (biochar) dengan alat sederhana. Biochar memperbaiki daya simpan air dan hara tanah serta menyimpan karbon dalam waktu lama. Jerami juga dapat dicacah untuk media jamur merang atau mulsa di lahan hortikultura.
Memilih cara sesuai kondisi
| Kondisi | Pilihan yang disarankan |
|---|---|
| Punya sapi atau ada peternak dekat | Pakan ternak (fermentasi), kompos kotoran kembali ke sawah |
| Jarak tanam berikutnya sangat dekat | Cacah dengan mesin dan benamkan segera, beri dekomposer |
| Luas lahan kecil, tenaga terbatas | Kompos di pinggir lahan |
| Ada kelompok tani dengan modal alat | Mesin pencacah, pembuatan kompos massal, atau biochar |
Biaya, hambatan, dan cara mengatasinya
Keluhan terbesar petani biasanya waktu dan tenaga. Karena itu, pengelolaan jerami lebih mudah dilakukan secara berkelompok: satu mesin pencacah atau pengumpul jerami dapat dipakai bergilir oleh anggota kelompok tani. Beberapa daerah juga mengembangkan usaha pengumpulan jerami untuk dijual sebagai pakan atau bahan baku kompos, sehingga jerami berubah dari limbah menjadi sumber penghasilan tambahan.
Mulailah dari langkah kecil: tidak membakar, mengumpulkan jerami di satu sudut lahan, dan mencoba satu metode. Tanyakan kepada penyuluh setempat tentang dekomposer dan pelatihan yang tersedia di kabupaten Anda.
Artikel ini bersifat informasi umum dan bukan pengganti rekomendasi penyuluh pertanian atau instansi berwenang. Sesuaikan dengan kondisi lahan Anda dan baca juga disclaimer kami. Menemukan kekeliruan? Beri tahu kami.