Menentukan kapan mulai tanam adalah keputusan penting yang memengaruhi ketersediaan air, serangan hama, hingga harga saat panen. Di Jawa Timur, pola tanam berbeda-beda antarwilayah karena curah hujan dan jaringan irigasi tidak sama. Artikel ini menjelaskan pola umum yang dipakai dan cara menyesuaikannya dengan kondisi lahan Anda.
Tiga musim tanam yang lazim
Di banyak wilayah dikenal tiga periode tanam dalam setahun. Waktunya bergeser menurut daerah dan tahun, jadi anggaplah ini kerangka umum, bukan jadwal baku:
- Musim Tanam I (MT I, kira-kira Oktober–Maret), memanfaatkan hujan awal musim penghujan. Umumnya padi.
- Musim Tanam II (MT II, kira-kira Maret–Juni), masih ditunjang sisa hujan dan irigasi. Umumnya padi.
- Musim Tanam III / gadu (MT III, kira-kira Juli–September), pada musim kemarau. Air terbatas, sehingga banyak petani beralih ke palawija seperti jagung, kedelai, atau kacang hijau, atau bergilir air.
Pola yang sering dipakai adalah padi–padi–palawija di lahan beririgasi baik, dan padi–palawija–bera di lahan yang airnya kurang.
Variasi antarwilayah
- Pantai utara (Lamongan, Gresik, Tuban, Bojonegoro). Sawah dapat tergenang banjir pada puncak hujan, sedangkan saat kemarau air cepat habis. Pilih jadwal agar tanaman tidak sedang fase rentan pada puncak banjir.
- Wilayah aliran Brantas (Kediri, Nganjuk, Jombang, Mojokerto, Malang). Irigasi umumnya lebih terjamin sehingga indeks pertanaman bisa tinggi.
- Tapal Kuda (Jember, Situbondo, Bondowoso, Probolinggo, Banyuwangi). Padi bersaing dengan tembakau, jagung, tebu, dan komoditas lain, sehingga pola tanam dipengaruhi harga dan ketersediaan air.
- Madura dan lahan tadah hujan. Tanam padi biasanya hanya sekali atau dua kali, bergantung pada awal musim hujan.
Prinsip menyusun jadwal tanam
- Mulai dari ketersediaan air. Pastikan air cukup sampai fase pengisian bulir. Tanaman paling peka kekurangan air saat anakan maksimum dan berbunga.
- Tanam serempak. Menanam bersamaan dalam satu hamparan memutus siklus hama seperti wereng dan tikus karena makanan tidak tersedia terus-menerus. Selisih tanam antarpetak sebaiknya tidak lebih dari sekitar dua minggu.
- Beri jeda tanah. Setelah panen, beri waktu pengolahan tanah dan penguraian jerami sebelum penanaman berikutnya.
- Pertimbangkan prakiraan cuaca. Pantau prakiraan musim dari BMKG, terutama saat ada potensi El Niño (kemarau lebih kering) atau La Niña (hujan lebih banyak).
- Pikirkan waktu panen. Hindari panen jatuh pada puncak hujan karena gabah sulit dikeringkan dan harga cenderung turun.
Contoh kegiatan per fase
| Fase | Kegiatan utama |
|---|---|
| Pra-tanam (−14 s.d. 0 hari) | Pengolahan tanah, perbaikan pematang dan saluran, pengurusan benih dan pupuk |
| Penyemaian dan tanam (0–21 hari) | Semai, tanam pindah umur bibit muda, penggenangan dangkal |
| Vegetatif (21–55 hari) | Penyiangan, pemupukan susulan, mulai pengairan berselang |
| Generatif (55–90 hari) | Jaga air saat berbunga, pantau hama dan penyakit |
| Pemasakan dan panen (90–120 hari) | Keringkan lahan, panen saat 90–95% bulir menguning |
Lama setiap fase bergantung varietas; varietas genjah lebih cepat panen, sedangkan varietas dalam membutuhkan waktu lebih panjang.
Jadwal tanam yang baik pada akhirnya adalah hasil musyawarah: pengurus irigasi, kelompok tani, dan penyuluh biasanya menetapkan pola tanam tiap musim. Ikuti dan sumbang data pengalaman lahan Anda.
Artikel ini bersifat informasi umum dan bukan pengganti rekomendasi penyuluh pertanian atau instansi berwenang. Sesuaikan dengan kondisi lahan Anda dan baca juga disclaimer kami. Menemukan kekeliruan? Beri tahu kami.