Memilih varietas sering dianggap perkara selera atau mengikuti tetangga. Padahal varietas yang tepat dapat mengurangi risiko gagal panen, menghemat input, dan bahkan memengaruhi emisi gas rumah kaca. Berikut cara berpikir memilih varietas yang sesuai dengan lahan di Jawa Timur.
Mulai dari pertanyaan tentang lahan
- Apakah air tersedia sepanjang musim? Jika air terbatas, pertimbangkan varietas berumur genjah atau toleran kekeringan.
- Apakah lahan sering terendam banjir? Beberapa varietas toleran rendaman beberapa hari (membawa gen Sub1).
- Apakah ada masalah salinitas di dekat pantai? Ada varietas yang lebih toleran garam.
- Apakah wereng atau penyakit tertentu sering menyerang di lokasi Anda? Pilih varietas dengan ketahanan yang terbukti di wilayah itu.
- Apa yang diminta pasar? Pedagang atau penggilingan setempat sering punya preferensi rasa dan kepulenan nasi.
Contoh varietas yang dikenal luas
Varietas unggul baru dilepas Kementerian Pertanian dan terus berganti. Berikut beberapa nama yang sudah lama dikenal sebagai gambaran jenis; periksa deskripsi resmi di BPP atau balai benih untuk varietas dan ketersediaan terbaru:
- Ciherang, Mekongga, Inpari 32: varietas sawah irigasi yang umum dikenal petani, dan sebagian di antaranya dipakai sebagai acuan dalam kalkulator emisi ADIPA.
- Inpari 13: berumur genjah dan sering dikaitkan dengan emisi metana yang lebih rendah dalam beberapa uji lapang.
- Varietas toleran rendaman (misalnya yang berlabel Sub1) untuk lahan rawan banjir.
- Varietas padi gogo untuk lahan kering atau tadah hujan.
Varietas dan emisi
Uji emisi oleh Balai Penelitian Lingkungan Pertanian pada delapan varietas menunjukkan bahwa emisi metana berbeda antarvarietas; sebagai contoh Inpari 13 tercatat paling rendah dalam uji tersebut (168 kg CH4/ha/musim), sedangkan Inpari 32 tercatat paling tinggi (285 kg CH4/ha/musim). Namun perbedaan itu berasal dari satu lokasi dan musim, jadi bersifat indikatif. Pilih varietas terutama karena kecocokan dengan lahan, ketahanan terhadap hama, dan hasil. Emisi adalah pertimbangan tambahan.
Benih bermutu
- Gunakan benih berlabel dari penangkar atau produsen resmi.
- Periksa tanggal kedaluwarsa dan daya tumbuh pada kemasan.
- Hindari memakai benih dari panen sendiri lebih dari dua atau tiga musim berturut-turut karena kemurnian varietas bisa turun.
- Rendam dan seleksi benih sebelum semai agar tumbuh seragam.
Uji dulu di petak kecil
Sebelum beralih seluruhnya ke varietas baru, tanam di petak kecil bersama varietas lama. Catat umur panen, jumlah anakan, serangan hama, hasil ubinan, harga jual, dan kemudahan menjualnya. Setelah satu-dua musim, Anda punya data sendiri untuk memutuskan.
Cara membaca deskripsi varietas
Setiap varietas yang dilepas memiliki deskripsi resmi (biasanya tersedia di balai benih, BPP, atau kemasan benih). Perhatikan poin-poin berikut sebelum membeli:
- Umur tanaman. Varietas genjah (sekitar 105–115 hari) cocok untuk mengejar jadwal tanam yang padat atau air terbatas; varietas lebih dalam memerlukan musim yang lebih panjang.
- Potensi hasil dan rata-rata hasil. Potensi hasil adalah angka optimal di stasiun penelitian; rata-rata hasil lebih mendekati kenyataan di lahan petani.
- Ketahanan terhadap hama dan penyakit. Cek terhadap wereng batang cokelat, hawar daun bakteri, dan blas. Ketahanan dapat menurun bila varietas yang sama ditanam terus-menerus, sehingga pergiliran varietas dianjurkan.
- Tekstur nasi dan kadar amilosa. Nasi pulen, pera, atau sedang memengaruhi selera pasar setempat.
- Anjuran lingkungan tumbuh. Beberapa varietas dianjurkan untuk dataran rendah, dataran tinggi, atau lahan tertentu saja.
Konsultasikan pilihan akhir kepada penyuluh pertanian lapangan (PPL) di wilayah Anda. Mereka memegang data keberhasilan varietas di kecamatan setempat.
Artikel ini bersifat informasi umum dan bukan pengganti rekomendasi penyuluh pertanian atau instansi berwenang. Sesuaikan dengan kondisi lahan Anda dan baca juga disclaimer kami. Menemukan kekeliruan? Beri tahu kami.